The Doomsday Argument
peluang statistik tentang kapan kepunahan manusia akan terjadi
Pernahkah kita duduk santai sambil menyeruput kopi, lalu tiba-tiba pikiran kita melayang ke sebuah pertanyaan absurd: kapan umat manusia akan benar-benar punah?
Biasanya, pertanyaan semacam ini langsung mengingatkan kita pada skenario film-film fiksi ilmiah. Kita membayangkan hantaman asteroid raksasa, invasi alien, atau kebangkitan kecerdasan buatan yang mengambil alih bumi. Namun, mari kita kesampingkan sejenak semua efek visual Hollywood tersebut. Bagaimana jika saya mengajak teman-teman untuk melihat pertanyaan ini tidak dari kacamata fiksi atau ramalan kuno, melainkan dari sudut pandang matematika dan statistik yang sangat dingin?
Bayangkan umat manusia adalah sebuah antrean panjang bioskop yang tiketnya terbatas. Kita saat ini sedang berdiri di dalam antrean tersebut. Pertanyaannya, seberapa panjang sisa antrean di belakang kita sebelum loketnya benar-benar ditutup untuk selamanya?
Secara psikologis, otak kita memang memiliki obsesi yang aneh terhadap akhir zaman. Sepanjang sejarah, kita telah menciptakan ribuan narasi tentang kiamat. Mulai dari kalender suku Maya, ramalan Nostradamus, hingga kepanikan massal saat menghadapi pergantian milenium atau Y2K bug.
Kenapa kita sangat suka memikirkan akhir dari segalanya? Jawabannya sederhana: otak manusia sangat membenci ketidakpastian. Kita selalu mendambakan sebuah closure atau penutupan cerita. Kita ingin tahu bagaimana buku ini berakhir.
Namun, ketika para ilmuwan dan ahli statistik ikut campur dalam urusan "akhir zaman" ini, mereka tidak menggunakan bola kristal atau menafsirkan mimpi. Mereka menggunakan angka. Mereka bersandar pada sebuah prinsip dasar dalam sains yang disebut Copernican Principle atau Prinsip Copernicus. Prinsip ini menyatakan sebuah kebenaran yang agak melukai ego kita: kita tidak sepesial itu.
Bumi bukanlah pusat tata surya. Matahari kita hanyalah bintang biasa di pinggiran galaksi yang juga biasa saja. Dan jika kita menerapkan prinsip "tidak spesial" ini pada keberadaan kita sebagai spesies, kita akan tiba pada sebuah pintu gerbang pemikiran yang sangat mendebarkan.
Mari kita lakukan sebuah eksperimen pikiran yang sederhana namun berdampak besar.
Bayangkan ada sebuah kotak raksasa. Di dalam kotak itu, terdapat gulungan tiket bernomor urut untuk setiap manusia yang pernah, sedang, dan akan hidup di alam semesta ini. Mulai dari manusia purba pertama, hingga bayi terakhir yang akan lahir sebelum spesies kita punah.
Sekarang, teman-teman memasukkan tangan ke dalam kotak itu dan menarik tiket milik teman-teman sendiri. Angka yang tertera di tiket kita saat ini kira-kira adalah 117 miliar. Angka ini berasal dari estimasi jumlah seluruh manusia yang pernah lahir ke bumi hingga detik ini.
Nah, di sinilah otak kita harus mulai bekerja keras. Jika umat manusia ditakdirkan untuk bertahan hidup hingga jutaan tahun ke depan, menyebar ke berbagai galaksi, dan berevolusi menjadi triliunan manusia baru, maka tiket nomor 117 miliar milik kita ini adalah nomor yang sangat, sangat, sangat awal. Kita berada di urutan 0,000001 persen pertama.
Tapi ingat prinsip Copernicus tadi. Kita ini tidak spesial. Peluang kita secara tidak sengaja terlahir di bagian paling awal dari sejarah panjang umat manusia secara statistik sangatlah kecil. Sangat tidak masuk akal jika kita menganggap diri kita adalah pengecualian yang super langka.
Jadi, jika kita bukanlah kelompok manusia pertama, dan nomor kita sudah mencapai 117 miliar, kira-kira sisa tiket di dalam kotak raksasa tadi tinggal berapa?
Inilah momen di mana sains memberikan kita sebuah realitas yang menampar. Konsep yang sedang kita bongkar ini dikenal dalam dunia akademis sebagai The Doomsday Argument atau Argumen Hari Kiamat.
Konsep ini dipopulerkan oleh fisikawan Brandon Carter dan astrofisikawan J. Richard Gott. Jika kita menggunakan aturan statistik dasar, kita bisa berasumsi bahwa secara acak, posisi kita saat ini kemungkinan besar berada di pertengahan—tepatnya di dalam 95 persen dari total seluruh populasi manusia yang akan pernah ada.
Jika kita memutar rumus matematikanya berdasarkan populasi manusia saat ini (yang bertambah sekitar 8 miliar orang dalam waktu yang sangat singkat), angka batas akhirnya tidaklah sebesar yang kita bayangkan. Hitungan statistik Gott memprediksi probabilitas tinggi bahwa total keseluruhan manusia tidak akan jauh melampaui 1,2 triliun orang.
Apa artinya ini bagi garis waktu kita?
Dengan tingkat pertumbuhan populasi dan konsumsi sumber daya saat ini, batas kuota tersebut akan tercapai bukan dalam jutaan tahun. Bukan juga ratusan ribu tahun. Secara statistik murni, umat manusia kemungkinan besar akan menemui akhir ceritanya dalam kurun waktu beberapa abad hingga maksimal beberapa ribu tahun ke depan. Kita kemungkinan besar sedang berada di babak akhir dari keseluruhan pertunjukan umat manusia.
Apakah fakta statistik ini lantas membuat kita harus panik, menutup laptop, dan bersembunyi di bawah meja? Tentu saja tidak.
Sebagai penikmat sains, kita harus ingat bahwa statistik adalah tentang probabilitas, bukan kepastian mutlak. The Doomsday Argument adalah peringatan matematis, bukan vonis mati. Selalu ada ruang bagi kita untuk menjadi anomali statistik. Mungkin kita memang berada di kelompok awal dari peradaban antar-galaksi yang umurnya masih sangat panjang. Kita tidak pernah benar-benar tahu.
Namun, ada pelajaran psikologis dan filosofis yang sangat indah yang bisa kita petik dari argumen ini.
Jika waktu kita sebagai sebuah spesies ternyata jauh lebih singkat dari yang kita kira, bukankah itu membuat momen kita saat ini menjadi luar biasa berharga? Pengetahuan ini tidak seharusnya membuat kita jatuh ke dalam lubang nihilisme atau keputusasaan. Sebaliknya, ini adalah panggilan empati yang paling kuat.
Kita dipaksa untuk menyadari betapa rentannya keberadaan kita. Argumen ini mengajak kita semua—teman-teman, saya, dan seluruh manusia yang hidup hari ini—untuk berhenti bertikai demi hal-hal kecil. Waktu yang terbatas seharusnya mendorong kita untuk lebih gigih merawat satu-satunya planet yang kita miliki, menjaga kelestarian alam, dan yang paling penting, lebih peduli satu sama lain.
Karena pada akhirnya, terlepas dari seberapa banyak sisa tiket di dalam kotak raksasa tersebut, cara kita menghabiskan waktu saat memegang tiket kitalah yang paling menentukan arti kemanusiaan kita.